Header Ads

Breaking News
recent

Penguatan Pola Pengasuhan Keluarga Pemulung

Menjadi sahabat anak dan orang tua saat ini dilakukan oleh Komunitas Sahabat Jumat Berkah di beberapa titik pemulung. Bersama LPA Sulsel dan JARAK, Jumardi Lanta, Hj. Emma dan Naris Agam secara berkala melakukan penguatan pengasuhan kepada orang tua di komunitas pemulung di Sanrangan dan Kampung Matoa.

Beberapa waktu lalu tim pendamping ini telah melakukan pendataan keluarga dan anak serta mengagendakan kegiatan agar anak-anak bisa mendapatkan sebagian haknya yang tidak terpenuhi. Berdasarkan pengamatan dan diskusi dengan perangkat setempat, orang tua serta anak-anak, kelompok pemulung yang banyak berasal dari luar Kota Makassar mempunyai cerita dan latar belakangnya mengapa akhirnya tinggal dan menetap di lokasi tersebut.

Sebut saja seorang ibu yang bercerita bahwa anak-anaknya lahir dari beberapa orang bapak yang berbeda dan tidak semuanya mempunyai dokumen kependudukan. Cerita lainnya datang dari anak-anak yang ternyata walaupun masih mengenyam layanan pendidikan, mereka tetap melakukan pekerjaan memulung/ yabo karena tuntutan ekonomi keluarga dan manfaat secara langsung yang diterima anak-anak setelah melakukan pekerjaan, yaitu uang.

Sebagian anak-anak tidak melanjutkan pendidikan di tingkat SMP maupun SMA, bahkan ada juga yang walaupun sudah dianggap lulus dari SD tidak pernah melihat ijasahnya karena masih mempunyai tunggakan di sekolah.nProses pendampingan di komunitas pemulung ini ditujukan kepada orang tua dan anak. Beberapa rekomendasi layanan yang dibutuhkan oleh anak juga sedang terus didorong oleh LPA Sulsel bersama Komunitas Sahabat Jumat Berkah untuk didialogkan dengan dinas terkait.

Penguatan isu pengasuhan dan memperkuat pemahaman hak anak kali ini dilakukan dengan berdialog bersama para orang tua. Dengan pendekatan dan komunikasi yang tidak formal, Jumardi Lanta membagikan pengalaman bagaimana mendidik anak, memberi contoh pengasuhan tanpa kekerasan, memperkenalkan pentingnya komunikasi dan perhatian orang tua kepada anak-anak karena saat ini anak-anak dikepung dengan persoalan bullying, pertemanan yang tidak sehat, perilaku kriminal (begal), narkoba, judi online dan contoh di pergaulan anak yang perlu diwaspadai.

Sesi eduksi kepada orang tua ini menekankan pentingnya peran orang tua melakukan pengasuhan dan mendidik anak agar menjadi anak yang memiliki kualitas bukan hanya secara fisik tapi juga bathiniah. Sejumlah orang tua berharap kehidupan anaknya sukses dan berhasil, bahkan saat sesi curah pendapat mereka ingin anak-anak menjadi dokter, tentara, pengusaha dan guru. Pendamping menyampaikan bahwa keberhasilan anak juga didukung dari tingkat pendidikan, maka penting bagi orang tua bisa memberikan kesempatan pendidikan bagi anak-anak.

Beberapa anak masih ditemukan bekerja memulung di jalan raya, bahkan ada anak yang sempat tertabrak dan luka. Kondisi inilah yang mendorong pendamping mendiskusikan kepada orang tua tentang bagaimana caranya tidak melibatkan anak dalam melakukan pekerjaan memulung. Pemahaman akan hak anak disampaikan dengan memberikan contoh-contoh dalam kehidupan keseharian. Ada empat hak anak yang didiskusikan bersama orang tua, diantaranya:

1. Hak hidup, anak perlu mendapat gizi yang baik agar tumbuh menjadi anak yang sehat.

2. Hak mendapat pendidikan agar anak cerdas

3. Hak partisipasi, anak perlu menyampaikan keluh kesahnya kepada orang tuanya agar jika ada masalahnya bisa ditemukan solusunya.

4. Hak hidup aman terhindar dari kekerasan.

Dengan banyaknya tantangan yang dihadapi anak anak sekarang di lingkungan luar rumah, orang tua seharusnya menjadi “rumah” sekaligus teman terbaik buat anak untuk komunikasi.

Selama proses pendampingan diperoleh informasi hampir semua ibu-ibu yang hadir memiliki kredit dengan koperasi termasuk kredit dan melakukan pembiayaan dengan cara menggadaikan motornya.Keluarga pemulung yang didampingi banyak yang tidak memiliki BPJS, KIS dan bantuan sosial dari PKH Dinas Sosial, bahkan informasi yang dihimpun dari RT setempat, Ismail Tunru warganya umumnya kategori desil 5 ke atas. Tentu kondisi ini sangat aneh dan tidak sesuai dengan temuan sebenarnya.

Para pendamping, dari LPA Sulsel maupun Komunitas Sahabat Jumat Berkah sebisanya mendukung kesulitan yang dihadapi oleh anak dan orang tua, baik dari tidak tercatatnya dalam dokumen kependudukan, tidak terakses dengan layanan pendidikan, kesehatan maupun layanan sosial. Sebagai bentuk pendampingan dan mencegah pemulung anak, tim pendamping akan memfasilitasi proses belajar mengajar terkait pelajaran dasar umum, menulis, membaca, menghitung, mewarna untuk komunitas anak dengan dukungan LPA Sulsel dan JARAK Indonesia.

Kontributor: Jumardi Lanta

Tidak ada komentar:

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.